Blog ini berisi Aktivitas Studio Musik Chicak beserta rekan-rekan yang ada di lingkungan Chicak Musik studio maupun lingkungan lainnya, selain dari pada itu blog ini juga memuat artikel/berita dari media elektronik yang ada guna lebih mengefektifkan informasi yang ada dalam artikel/berita tersebut. Studio Musik Chicak beralamatkan di Jln H. Enang No. 28 Cisalak Pasar ( Studio Musik Chicak) Telpon /Fax 021 8732662 atau 02187754047
Rabu, 17 April 2013
Komikus peraih penghargaan internasional berbagi rahasia
Jakarta (ANTARA News) - Dua pria kreatif di balik komik "5 Menit Sebelum Tayang" yang meraih penghargaan "Silver Award" dalam Kontes Manga Internasional keenam di Jepang, Ockto Baringbing (pembuat naskah) dan Muhammad Fathanatul Haq (ilustrator) berbagi rahasia untuk orang-orang yang ingin mengikuti jejak mereka.
Bagi Muhammad Fathanatul yang biasa dipanggil Matto, menjaga motivasi untuk tetap produktif merupakan hal yang menantang karena dunia komik Indonesia belum menjanjikan secara finansial. Oleh karena itu, dukungan moral dari kawan seprofesi adalah hal penting bagi Matto.
"Lebih baik punya komunitas, supaya ada teman-teman yang bisa saling menyemangati," kata Matto pada bincang-bincang di Japan Foundation Jakarta, Selasa.
Matto yang mengaku terpacu untuk selalu bersaing bila melihat komik Indonesia yang bagus juga menegaskan bahwa mental baja diperlukan bagi orang-orang yang ingin jadi komikus.
"Dunia penerbitan itu nggak lembek. Harus tahan banting," lanjut pria kelahiran 18 Januari 1989 yang berdomisi di Yogyakarta.
Sementara itu, Ockto Baringbing mengungkapkan cara mengatasi kejenuhan dalam berkarya. Menurutnya, jenuh pasti dialami setiap orang, namun hal itu harus dihadapi, bukan dihindari.
"Jangan beranjak dari meja gambar. Kalau tetap di situ, otak akan diforsir untuk terus berpikir. Boleh beranjak untuk cari ide, misalnya nonton film dan datangi tempat yang belum pernah didatangi," jelas pria kelahiran 30 Oktober 1984.
Pria yang memiliki nama pena Go King itu menegaskan, kesuksesan bisa diraih bila ada komitmen untuk menyelesaikan hal yang sudah dimulai.
"Selesaikan apa yang kamu kerjakan, jangan berhenti di tengah jalan," pesannya.
Lima penyair Indonesia ikuti festival di Afrika
Borobudur, Jateng
(ANTARA News) - Lima penyair Indonesia akan mengikuti dua festival di
Afrika Selatan dan Zimbabwe, yakni "What`s Poetry Festival II" pada
21-28 April dan "Harare International Festival of the Arts" pada 30
April-5 Mei 2013.
Kelima penyair Indonesia tersebut, Toeti Heraty, Saut Situmorang, Samar Gantang, Duddy Anggawi, dan Dorothea Rosa Herliany, akan membacakan karya sastra mereka pada festival tersebut.
"Kami berlima diundang untuk mengikuti festival tersebut," kata Rosa, di Borobudur, Selasa.
Rosa menjelaskan agenda dalam "What`s Poetry Festival II" diantaranya adalah pembacaan puisi, diskusi sastra, pelatihan penulisan dengan para siswa, dan berbagi pengalaman antarpenyair dunia.
"Sebagai upaya penyair di seluruh dunia untuk menemukan kembali bahasa, untuk mengekspresikan berbagai ide baru dan wawasan, untuk suatu perubahan dan refleksi," katanya.
"What's Poetry Festival" yang pertama digelar di empat kota di Indonesia yakni Magelang, Pekalongan, Malang dan Surabaya, sedangkan festival ke-III di China pada 2014.
Sementara "Harare International Festival of the Arts" akan menampilkan pertunjukan tradisional Zimbabwe, resital klasik, opera, teater, tari, musik, pameran, pembacaan puisi, dan lokakarya.
"HIFA adalah festival terbesar di Afrika, perayaan terbaik musik Zimbabwe dan internasional dan berbagai kesenian," kata Rosa yang juga pengelola Rumah Buku "DuniaTera" Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu.
Kelima penyair Indonesia tersebut, Toeti Heraty, Saut Situmorang, Samar Gantang, Duddy Anggawi, dan Dorothea Rosa Herliany, akan membacakan karya sastra mereka pada festival tersebut.
"Kami berlima diundang untuk mengikuti festival tersebut," kata Rosa, di Borobudur, Selasa.
Rosa menjelaskan agenda dalam "What`s Poetry Festival II" diantaranya adalah pembacaan puisi, diskusi sastra, pelatihan penulisan dengan para siswa, dan berbagi pengalaman antarpenyair dunia.
"Sebagai upaya penyair di seluruh dunia untuk menemukan kembali bahasa, untuk mengekspresikan berbagai ide baru dan wawasan, untuk suatu perubahan dan refleksi," katanya.
"What's Poetry Festival" yang pertama digelar di empat kota di Indonesia yakni Magelang, Pekalongan, Malang dan Surabaya, sedangkan festival ke-III di China pada 2014.
Sementara "Harare International Festival of the Arts" akan menampilkan pertunjukan tradisional Zimbabwe, resital klasik, opera, teater, tari, musik, pameran, pembacaan puisi, dan lokakarya.
"HIFA adalah festival terbesar di Afrika, perayaan terbaik musik Zimbabwe dan internasional dan berbagai kesenian," kata Rosa yang juga pengelola Rumah Buku "DuniaTera" Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu.
Editor: Heppy Ratna
Agnes Monica Diundang Produser Oblivion
Ghiboo.com - Agnes Monica sempat membuat heboh
karena dapat menghadiri penayangan perdana film Oblivion di Los Angeles,
Amerika Serikat, Rabu kemarin.
Publik tanah air pun banyak bertanya, bagaimana bisa aktris Indonesia bisa hadir di premier film Hollywood, dan berjalan di black carpet, tempat selebriti Hollywood sekelas Tom Cruise juga berjalan di situ.
Hal ini pun semakin ramai diperbincangkan di media sosial. Ada yang menyangka demi hadir di premier film Oblivion, Agnes rela membeli tiket.
Tidak ingin berlarut-larut menjadi pertanyaan besar, artis yang masuk dalam nominasi Shorty Awards 2013 itu pun menjawab pertanyaan bagaimana ia bisa hadir di premier Oblivion.
"Buat yang nanya, itu saya beli tiket or diundang. (Penting nggak ya dijawab? Hahaha) Saya diundang oleh produser Oblivion," tulis Agnes di akun Twitter-nya, beberapa jam lalu.
Lebih lanjut Agnes pun menjelaskan soal perbedaan antara tamu premier Oblivion yang beli tiket dan yang diundang.
"Dan yang beli tiket, jalan masuknya juga beda.. Hehehe (sebenarnya agak lucu sih ya nanyanya) Tapi nggak apa-apa deh, supaya jelas.. :D xixixo," tambahnya.
Film Oblivion sendiri sudah tayang di bioskop Indonesia. Film ini dibintangi Tom Cruise, Olga Kurylenko, Morgan Freeman.
KPI didesak tegur sinetron rendahkan simbol agama
Jakarta (ANTARA
News) - Organisasi Masyarakat Televisi Sehat Indonesia mendesak Komisi
Penyiaran Indonesia (KPI) menegur stasiun televisi yang menayangkan
sinetron merendahkan simbol agama tertentu karena telah meresahkan
masyarakat Indonesia.
"Tayangan sinetron tersebut telah memunculkan persepsi buruk tentang tokoh panutan dalam agama Islam," kata Ketua Masyarakat Televisi Sehat Indonesia Fahira Idris di Jakarta, Selasa.
Guna membahas persoalan tersebut, Fahira bersama Koordinator dan Sekretaris Masyarakat Televisi Sehat Indonesia Ardy Purnawan Sani dan Bayu Priyoko telah menemui para Komisioner KPI Azimah Subagio, Ezki Suyanto, serta Irwandi Syahputra, Senin (15/4).
Ia menyebutkan beberapa sinetron yang yang diduga merendahkan simbol agama tersebut, yakni "Haji Medit" (SCTV), "Islam KTP" (RCTI), "Tukang Bubur Naik Haji" (RCTI) dan "Ustad Foto Kopi" (SCTV).
Fahira menjelaskan sinetron tersebut telah merendahkan simbol salah satu agama dengan menempatkan Islam sebagai "tersangka" kejelekan.
Tayangan sinetron itu juga mencantumkan judul dengan terminologi Islam, namun isi dan jalan ceritanya tidak mencerminkan perilaku Islami, ujarnya.
Ia mencontohkan film tersebut mempertontonkan karakter ustad dan haji yang seharusnya menjadi panutan masyarakat, namun digambarkan seseorang yang dengki dan iri terhadap orang lain.
Fahira berharap pelaku perfilman menampilkan tayangan sinetron yang mendidik dan berkualitas, serta mengajak aktor maupun aktris lebih selektif memilih peran dalam sebuah film di Indonesia.
Sekretaris Masyarakat Televisi Sehat Indonesia Bayu Priyoko menambahkan sinetron yang menayangkan simbol Islam lebih mengedepankan karakter yang negatif, seperti ustad jahil, kikir dan sifat tercela lainnya.
Pada bagian lainnya, aktivis Masyarakat Televisi Sehat Indonesia menuntut pemerintah memberikan kewenangan KPI untuk mencabut izin siaran dan menindak tegas lainnya dengan merevisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, karena selama ini, KPI hanya sebatas berwenang memberikan peringatan keras.
"Tayangan sinetron tersebut telah memunculkan persepsi buruk tentang tokoh panutan dalam agama Islam," kata Ketua Masyarakat Televisi Sehat Indonesia Fahira Idris di Jakarta, Selasa.
Guna membahas persoalan tersebut, Fahira bersama Koordinator dan Sekretaris Masyarakat Televisi Sehat Indonesia Ardy Purnawan Sani dan Bayu Priyoko telah menemui para Komisioner KPI Azimah Subagio, Ezki Suyanto, serta Irwandi Syahputra, Senin (15/4).
Ia menyebutkan beberapa sinetron yang yang diduga merendahkan simbol agama tersebut, yakni "Haji Medit" (SCTV), "Islam KTP" (RCTI), "Tukang Bubur Naik Haji" (RCTI) dan "Ustad Foto Kopi" (SCTV).
Fahira menjelaskan sinetron tersebut telah merendahkan simbol salah satu agama dengan menempatkan Islam sebagai "tersangka" kejelekan.
Tayangan sinetron itu juga mencantumkan judul dengan terminologi Islam, namun isi dan jalan ceritanya tidak mencerminkan perilaku Islami, ujarnya.
Ia mencontohkan film tersebut mempertontonkan karakter ustad dan haji yang seharusnya menjadi panutan masyarakat, namun digambarkan seseorang yang dengki dan iri terhadap orang lain.
Fahira berharap pelaku perfilman menampilkan tayangan sinetron yang mendidik dan berkualitas, serta mengajak aktor maupun aktris lebih selektif memilih peran dalam sebuah film di Indonesia.
Sekretaris Masyarakat Televisi Sehat Indonesia Bayu Priyoko menambahkan sinetron yang menayangkan simbol Islam lebih mengedepankan karakter yang negatif, seperti ustad jahil, kikir dan sifat tercela lainnya.
Pada bagian lainnya, aktivis Masyarakat Televisi Sehat Indonesia menuntut pemerintah memberikan kewenangan KPI untuk mencabut izin siaran dan menindak tegas lainnya dengan merevisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, karena selama ini, KPI hanya sebatas berwenang memberikan peringatan keras.
Rabu, 13 Maret 2013
Agar Kakak Beradik Saling Sayang, Tak Bersaing Rebut Perhatian
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
Bagaimana caranya agar kakak beradik yang sama-sama masih di bawah umur bisa kompak dan saling menyayangi?
Bagaimana mencegah keduanya dari bertengkar, rebutan mainan dan bersaing untuk mendapat perhatian lebih papa dan mamanya?
Ingat! Rasa kasih sayang dan tanggung jawab seorang kakak tak tumbuh dengan sendirinya, tapi harus diajarkan dan dilatih. Orang tua pun jangan menuntut tanggung jawab kakak secara berlebihan. Ingat, si kecil masih usia balita.
"Saya benar-benar pusing dengan ulah Aldi. Selalu saja kalau saya mengurus adik bayinya, ia ribut dengan adiknya yang nomor dua. Entah rebutan mainan atau remote kontrol," keluh Bu Tina, seorang ibu rumahtangga, tentang perilaku anak pertamanya.
Tak hanya itu, Bu Tina juga mengeluh betapa si sulung tak pernah mau mengajak adiknya bermain. "Kalau adiknya mau ikut main, malah habis dicubiti. Sebagai anak sulung, seharusnya, kan, dia melindungi adiknya, mengajaknya bermain, dan menyayanginya. Bagaimana, ya, mengajarkan tanggung jawab pada Aldi?"
Kebanyakan orang tua memang akan bersikap seperti Bu Tina terhadap anak yang lebih tua alias kakak. Apalagi jika si kakak adalah anak sulung, orang tua cenderung akan lebih menuntut dan mengharapkan banyak darinya. "Hal ini disebabkan pengaruh kultural, warisan dari nenek moyang kita," kata dra. Retno Pudjiati Azhar. Kultur ini terjadi karena orang tua zaman dulu umumnya punya anak banyak.
"Kala si ibu kerepotan mengurus si bungsu, maka si sulung dilatih untuk mengasuh adiknya, mengajak adiknya main, mengayomi adik. Selanjutnya, anak nomor dua pun kalau ia sudah agak besar juga harus mengasuh adiknya lagi. Begitu seterusnya."
Itulah mengapa, sampai sekarang pun "aturan main" tersebut masih saja berlaku. Kecenderungan orang tua memperlakukan anak pertama berbeda dengan anak-anak yang lahir berikutnya, juga ditegaskan oleh Mussen dkk. dalam bukunya yang sudah dialih bahasa, Perkembangan dan Kepribadian Anak.
"Secara umum, orang tua lebih terlibat dengan anak pertama, lebih menaruh perhatian, memberi dorongan, dan berbicara lebih banyak. Mereka juga cenderung lebih menuntut, mengharapkan banyak dari anak sulung." Terlebih lagi bila si sulung berjenis kelamin perempuan, "pada pertengahan masa kanak-kanak, anak perempuan cenderung membantu mengurus adik-adiknya."
Libatkan Sang Kakak
Yang perlu diperhatikan, jangan sampai orang tua terlalu menuntut tanggung jawab besar dari sang kakak karena tanggung jawab harus disesuikan dengan usianya. "Pada anak usia balita dengan anak SD tentu tanggung jawabnya akan berbeda. Jika beban itu terlalu berat baginya, bisa mengganggu perkembangan kepribadiannya. Anak akan merasakannya sebagai tekanan dan bahkan bisa jadi benci pada tugas yang diberikan kepadanya," terang Retno.
Apalagi di usia balita, si kakak pun masih membutuhkan bantuan orang tua. Jadi, sekalipun ia diminta untuk menjaga sang adik, misalnya mengajak adik main di luar rumah, tetap harus ada supervisi dari orang dewasa. Begitu juga bila meminta kakak menjaga adik di dalam rumah atau di mobil, "jangan pernah ditinggal sendirian walaupun hanya sekejap. Karena dalam sekejap mata, kita tak tahu akan ada kejadian apa. Bukankah banyak hal yang bisa jadi bahaya dalam sekejap, entah masalah listrik, korek api, gas di mobil, dan sebagainya," lanjut Retno.
Selain itu, harus disadari bahwa rasa tanggung jawab dan kasih sayang seorang kakak pada adiknya tak bisa tumbuh dengan sendirinya. "Anak harus diajarkan dan dilatih sejak kecil," ujar Retno. Kalau tidak, maka ia tak akan pernah dekat dengan sang adik.
"Bahkan tak jarang, si kakak merasa adiknya sebagai saingan dalam memperebutkan kasih sayang orang tua," lanjut dosen di jurusan Psikologi Perkembangan Fakultas Psikologi UI ini. Nah, agar si kakak memiliki rasa kasih sayang dan tanggung jawab pada adik, Retno menganjurkan orang tua untuk melibatkan si kakak dalam pengurusan sang adik. Misalnya, meminta bantuan kakak mengambilkan popok untuk adik bayinya yang pipis, memegangi kaki adik kala ibu memakaikan popok, dan sebagainya.
Bila si adik sudah lebih besar, ibu bisa menyuruhnya membeli sesuatu di warung dekat rumah, misalnya, dengan menyertakan sang adik, "Ajak adik, ya, Kak. Adiknya digandeng." Berawal dari situ, selanjutnya pelan-pelan ibu bisa meminta si kakak mengajak adiknya kala bermain bersama teman-temannya.
Sebaiknya ibu juga berbicara kepada kakak tentang adiknya secara pribadi, memintanya untuk ikut serta dalam diskusi dan pengambilan keputusan tentang perawatan atau reaksi adiknya. Kala adik menangis, misalnya, ibu bisa menanyakan kepada si kakak, "Menurutmu mengapa adik menangis? Apa yang diinginkannya?"
Menurut Mussen dkk., anak-anak dari ibu yang bersikap demikian akan melakukan pendekatan lebih positif satu sama lain. Penelitian pun telah membuktikan, anak yang menunjukkan minat bersahabat terhadap adiknya yang masih bayi selama 3 minggu pertama akan menunjukkan perilaku sosial lebih positif terhadap saudaranya itu pada usia 14 bulan.
Jadi, Bu, jangan malah si kakak diusir kala ia mendekat ketika Ibu sedang repot mengurus adiknya, "Sana, main di luar! Bunda lagi ngurusin adik, kamu malah ribut melulu." Bila demikian, si kakak akhirnya akan merasa, "Oh, aku ini gangguin adik." Ia pun akan merasa sebagai destroyer.
Bikin Aturan
Selain melibatkan kakak dalam mengurus adik, orang tua juga bisa melakukannya lewat dongeng sebelum tidur. "Pilih cerita yang mengajarkan nilai-nilai tanggung jawab seorang kakak. Jika tak ada buku cerita yang menggambarkan hal demikian, bisa bikin dongeng kreasi sendiri. Entah tentang dua anak ayam kakak beradik yang tiap hari bertengkar terus, tak saling sayang, akhirnya dampaknya jadi apa," tutur Retno.
Tentunya, cerita/dongeng tersebut akan lebih merasuk ke benak anak bila diceritakan dengan intonasi yang mengena. Yang tak kalah penting, orang tua harus menjadi contoh bagi anak. Bukankah anak selalu belajar dari orang tua? Bila orang tua tak punya waktu untuk duduk sama-sama dengan anak atau main bersama, tentu anak pun akan meniru. "Ia tak akan tergerak mengajak orang lain, juga adiknya untuk main bersama dirinya," ujar Retno.
Tapi bila orang tua selalu menyempatkan diri untuk main bersama anak-anak, mengajarkan berbagi antara kakak-adik, maka anak-anak pun lama-lama akan terbiasa dengan hal demikian. Bahwa kemudian terjadi juga pertengkaran antara kakak-adik tentulah bisa dipahami.
Soalnya, anak usia prasekolah egonya masih tinggi, walaupun ada juga yang sudah mereda egoisnya dan mulai bisa sharing. Jadi, ujar Retno, tak usah heran bila menjumpai si kakak tak mau berbagi mainan dengan adiknya atau mengajaknya main bersama. "Yang penting orang tua terus mengajarkan kasih sayang, berbagi, dan tanggung jawab pada anak-anak."
Disamping, tentunya orang tua juga perlu menerapkan aturan terhadap kakak dan adik. Misalnya, kakak tak mau berbagi mainan dengan adik. "Pertama kali kita harus lihat, mainan itu milik siapa.
Juga, mainan itu sedang dimainkan oleh pemiliknya atau tidak. Bila si kakak sedang memainkan mainan itu dan adiknya ingin main pula, maka si adik harus menunggu sebentar sampai kakaknya selesai main," tutur Retno. Bisa juga dengan meminta izin dari si kakak, "Kak, boleh enggak Adik pinjam mainannya?"
Bila ia menjawab, "Mainan ini, kan, punyaku," tanyakan lagi, "Sampai berapa lama Kakak akan main? Sesudah itu, bolehkah Adik pinjam? Nah, ini lihat jam, Kakak main sampai jarum panjang jam terletak di angka ini, ya? Habis itu Adik boleh pinjam."
Konsekuen
Jadi, tandas Retno, orang tualah yang harus membuat aturan. Jangan sampai orang tua malah langsung memarahi si kakak, "Kamu, kan, kakaknya. Harus mengalah, dong!" Bila demikian, si kakak akan merasakan ketidakadilan dari orang tua. Bukankah si kakak juga punya hak pribadi yang sama seperti si adik?
"Kita saja kalau sedang asyik baca koran atau buku, lalu tiba-tiba ada yang merebut, kan, jadi marah. Nah, demikian juga anak-anak." Aturan ini juga bisa dibuat menyangkut masalah disiplin dan tanggung jawab pribadi. Misalnya, usai bermain harus membereskan mainannya, sebelum tidur gosok gigi, atau menaruh sandal dan sepatu di tempatnya jika masuk ke rumah, dan sebagainya. Namun aturan sebaiknya tak panjang-panjang mengingat usianya masih balita.
"Tentu saja, bila sudah membuat aturan harus dijalani dengan konsekuen. Jangan malah orang tua sendiri yang melanggar aturannya," lanjut Retno. Misalnya, aturan boleh menonton TV setelah mandi. Bila si anak tak mandi, ya, jangan nyalakan TV. Jangan sampai, anak belum mandi tapi karena orang tua ingin nonton telenovela, maka dinyalakan juga TV-nya. Tapi bila si anak sendiri yang melanggar aturan, menurut Retno, orang tua bisa menerapkan konsekuensi. Misalnya, adik boleh pinjam mainan kakak tapi setelah selesai main harus dibereskan. Nah, kalau ia tak mau membereskannya, katakan, "Nanti Adik tak boleh main mainan Kakak lagi, lo."
Dengan demikian tanggung jawab pun tak melulu milik kakak, tapi sang adik pun tetap harus bertanggung jawab pula atas segala perbuatannya. Jadi, konsekuensinya dalam bentuk mengingatkan, bukan hukuman. "Meskipun hanya diingatkan, anak juga akan tergerak memperbaikinya, kok," ujar Retno.
Hanya memang, lanjutnya, kebanyakan orang tua cenderung kurang sabar. "Dikiranya kalau anak sudah sekali diberi tahu akan langsung mengerti. Anak, kan, tak bisa seperti itu. Ia harus terus diingatkan." Selanjutnya, bila anak sudah melakukan seperti apa yang kita inginkan, berilah rewards semisal pujian, "Wah, anak Mama memang hebat, deh!" Sudah paham, kan, Bu-Pak!
Berantem itu Ada Bagusnya, Kok!
Orang tua biasanya tak senang bila kakak-adik bertengkar. Memang tak baik juga dampaknya bila pertengkaran lebih sering terjadi. Tapi kalau hanya sekali-kali malah bagus, lo. "Mereka bisa solve their problem menurut aturan mereka sendiri," ujar Retno. Karena itulah, Retno minta orang tua sebaiknya jangan terlalu reaktif dan langsung intervensi kala si kakak dan adiknya bertengkar.
"Lihat dulu apa permasalahannya, apakah mereka bisa menyelesaikannya sendiri atau tidak." Tak jarang, salah satu akan mengadu lebih dulu kepada ayah atau ibunya. Nah, manfaatkan kesempatan ini untuk menanyai mereka, "Kenapa bisa begitu?" Lantas carilah jalan keluarnya.
"Namun dalam menanyai, sebaiknya harus dua-duanya. Bila mereka teriak-teriak menangis, raih si victim (korban, red) dalam pelukan dan ajak yang satunya duduk di sebelah orang tua sambil ditanyai satu per satu." Dengan begitu, anak pun akan belajar bagaimana cara mencari jalan keluar bila tengah menghadapi masalah. (Indah Mulatsih /nakita)
Bagaimana caranya agar kakak beradik yang sama-sama masih di bawah umur bisa kompak dan saling menyayangi?
Bagaimana mencegah keduanya dari bertengkar, rebutan mainan dan bersaing untuk mendapat perhatian lebih papa dan mamanya?
Ingat! Rasa kasih sayang dan tanggung jawab seorang kakak tak tumbuh dengan sendirinya, tapi harus diajarkan dan dilatih. Orang tua pun jangan menuntut tanggung jawab kakak secara berlebihan. Ingat, si kecil masih usia balita.
"Saya benar-benar pusing dengan ulah Aldi. Selalu saja kalau saya mengurus adik bayinya, ia ribut dengan adiknya yang nomor dua. Entah rebutan mainan atau remote kontrol," keluh Bu Tina, seorang ibu rumahtangga, tentang perilaku anak pertamanya.
Tak hanya itu, Bu Tina juga mengeluh betapa si sulung tak pernah mau mengajak adiknya bermain. "Kalau adiknya mau ikut main, malah habis dicubiti. Sebagai anak sulung, seharusnya, kan, dia melindungi adiknya, mengajaknya bermain, dan menyayanginya. Bagaimana, ya, mengajarkan tanggung jawab pada Aldi?"
Kebanyakan orang tua memang akan bersikap seperti Bu Tina terhadap anak yang lebih tua alias kakak. Apalagi jika si kakak adalah anak sulung, orang tua cenderung akan lebih menuntut dan mengharapkan banyak darinya. "Hal ini disebabkan pengaruh kultural, warisan dari nenek moyang kita," kata dra. Retno Pudjiati Azhar. Kultur ini terjadi karena orang tua zaman dulu umumnya punya anak banyak.
"Kala si ibu kerepotan mengurus si bungsu, maka si sulung dilatih untuk mengasuh adiknya, mengajak adiknya main, mengayomi adik. Selanjutnya, anak nomor dua pun kalau ia sudah agak besar juga harus mengasuh adiknya lagi. Begitu seterusnya."
Itulah mengapa, sampai sekarang pun "aturan main" tersebut masih saja berlaku. Kecenderungan orang tua memperlakukan anak pertama berbeda dengan anak-anak yang lahir berikutnya, juga ditegaskan oleh Mussen dkk. dalam bukunya yang sudah dialih bahasa, Perkembangan dan Kepribadian Anak.
"Secara umum, orang tua lebih terlibat dengan anak pertama, lebih menaruh perhatian, memberi dorongan, dan berbicara lebih banyak. Mereka juga cenderung lebih menuntut, mengharapkan banyak dari anak sulung." Terlebih lagi bila si sulung berjenis kelamin perempuan, "pada pertengahan masa kanak-kanak, anak perempuan cenderung membantu mengurus adik-adiknya."
Libatkan Sang Kakak
Yang perlu diperhatikan, jangan sampai orang tua terlalu menuntut tanggung jawab besar dari sang kakak karena tanggung jawab harus disesuikan dengan usianya. "Pada anak usia balita dengan anak SD tentu tanggung jawabnya akan berbeda. Jika beban itu terlalu berat baginya, bisa mengganggu perkembangan kepribadiannya. Anak akan merasakannya sebagai tekanan dan bahkan bisa jadi benci pada tugas yang diberikan kepadanya," terang Retno.
Apalagi di usia balita, si kakak pun masih membutuhkan bantuan orang tua. Jadi, sekalipun ia diminta untuk menjaga sang adik, misalnya mengajak adik main di luar rumah, tetap harus ada supervisi dari orang dewasa. Begitu juga bila meminta kakak menjaga adik di dalam rumah atau di mobil, "jangan pernah ditinggal sendirian walaupun hanya sekejap. Karena dalam sekejap mata, kita tak tahu akan ada kejadian apa. Bukankah banyak hal yang bisa jadi bahaya dalam sekejap, entah masalah listrik, korek api, gas di mobil, dan sebagainya," lanjut Retno.
Selain itu, harus disadari bahwa rasa tanggung jawab dan kasih sayang seorang kakak pada adiknya tak bisa tumbuh dengan sendirinya. "Anak harus diajarkan dan dilatih sejak kecil," ujar Retno. Kalau tidak, maka ia tak akan pernah dekat dengan sang adik.
"Bahkan tak jarang, si kakak merasa adiknya sebagai saingan dalam memperebutkan kasih sayang orang tua," lanjut dosen di jurusan Psikologi Perkembangan Fakultas Psikologi UI ini. Nah, agar si kakak memiliki rasa kasih sayang dan tanggung jawab pada adik, Retno menganjurkan orang tua untuk melibatkan si kakak dalam pengurusan sang adik. Misalnya, meminta bantuan kakak mengambilkan popok untuk adik bayinya yang pipis, memegangi kaki adik kala ibu memakaikan popok, dan sebagainya.
Bila si adik sudah lebih besar, ibu bisa menyuruhnya membeli sesuatu di warung dekat rumah, misalnya, dengan menyertakan sang adik, "Ajak adik, ya, Kak. Adiknya digandeng." Berawal dari situ, selanjutnya pelan-pelan ibu bisa meminta si kakak mengajak adiknya kala bermain bersama teman-temannya.
Sebaiknya ibu juga berbicara kepada kakak tentang adiknya secara pribadi, memintanya untuk ikut serta dalam diskusi dan pengambilan keputusan tentang perawatan atau reaksi adiknya. Kala adik menangis, misalnya, ibu bisa menanyakan kepada si kakak, "Menurutmu mengapa adik menangis? Apa yang diinginkannya?"
Menurut Mussen dkk., anak-anak dari ibu yang bersikap demikian akan melakukan pendekatan lebih positif satu sama lain. Penelitian pun telah membuktikan, anak yang menunjukkan minat bersahabat terhadap adiknya yang masih bayi selama 3 minggu pertama akan menunjukkan perilaku sosial lebih positif terhadap saudaranya itu pada usia 14 bulan.
Jadi, Bu, jangan malah si kakak diusir kala ia mendekat ketika Ibu sedang repot mengurus adiknya, "Sana, main di luar! Bunda lagi ngurusin adik, kamu malah ribut melulu." Bila demikian, si kakak akhirnya akan merasa, "Oh, aku ini gangguin adik." Ia pun akan merasa sebagai destroyer.
Bikin Aturan
Selain melibatkan kakak dalam mengurus adik, orang tua juga bisa melakukannya lewat dongeng sebelum tidur. "Pilih cerita yang mengajarkan nilai-nilai tanggung jawab seorang kakak. Jika tak ada buku cerita yang menggambarkan hal demikian, bisa bikin dongeng kreasi sendiri. Entah tentang dua anak ayam kakak beradik yang tiap hari bertengkar terus, tak saling sayang, akhirnya dampaknya jadi apa," tutur Retno.
Tentunya, cerita/dongeng tersebut akan lebih merasuk ke benak anak bila diceritakan dengan intonasi yang mengena. Yang tak kalah penting, orang tua harus menjadi contoh bagi anak. Bukankah anak selalu belajar dari orang tua? Bila orang tua tak punya waktu untuk duduk sama-sama dengan anak atau main bersama, tentu anak pun akan meniru. "Ia tak akan tergerak mengajak orang lain, juga adiknya untuk main bersama dirinya," ujar Retno.
Tapi bila orang tua selalu menyempatkan diri untuk main bersama anak-anak, mengajarkan berbagi antara kakak-adik, maka anak-anak pun lama-lama akan terbiasa dengan hal demikian. Bahwa kemudian terjadi juga pertengkaran antara kakak-adik tentulah bisa dipahami.
Soalnya, anak usia prasekolah egonya masih tinggi, walaupun ada juga yang sudah mereda egoisnya dan mulai bisa sharing. Jadi, ujar Retno, tak usah heran bila menjumpai si kakak tak mau berbagi mainan dengan adiknya atau mengajaknya main bersama. "Yang penting orang tua terus mengajarkan kasih sayang, berbagi, dan tanggung jawab pada anak-anak."
Disamping, tentunya orang tua juga perlu menerapkan aturan terhadap kakak dan adik. Misalnya, kakak tak mau berbagi mainan dengan adik. "Pertama kali kita harus lihat, mainan itu milik siapa.
Juga, mainan itu sedang dimainkan oleh pemiliknya atau tidak. Bila si kakak sedang memainkan mainan itu dan adiknya ingin main pula, maka si adik harus menunggu sebentar sampai kakaknya selesai main," tutur Retno. Bisa juga dengan meminta izin dari si kakak, "Kak, boleh enggak Adik pinjam mainannya?"
Bila ia menjawab, "Mainan ini, kan, punyaku," tanyakan lagi, "Sampai berapa lama Kakak akan main? Sesudah itu, bolehkah Adik pinjam? Nah, ini lihat jam, Kakak main sampai jarum panjang jam terletak di angka ini, ya? Habis itu Adik boleh pinjam."
Konsekuen
Jadi, tandas Retno, orang tualah yang harus membuat aturan. Jangan sampai orang tua malah langsung memarahi si kakak, "Kamu, kan, kakaknya. Harus mengalah, dong!" Bila demikian, si kakak akan merasakan ketidakadilan dari orang tua. Bukankah si kakak juga punya hak pribadi yang sama seperti si adik?
"Kita saja kalau sedang asyik baca koran atau buku, lalu tiba-tiba ada yang merebut, kan, jadi marah. Nah, demikian juga anak-anak." Aturan ini juga bisa dibuat menyangkut masalah disiplin dan tanggung jawab pribadi. Misalnya, usai bermain harus membereskan mainannya, sebelum tidur gosok gigi, atau menaruh sandal dan sepatu di tempatnya jika masuk ke rumah, dan sebagainya. Namun aturan sebaiknya tak panjang-panjang mengingat usianya masih balita.
"Tentu saja, bila sudah membuat aturan harus dijalani dengan konsekuen. Jangan malah orang tua sendiri yang melanggar aturannya," lanjut Retno. Misalnya, aturan boleh menonton TV setelah mandi. Bila si anak tak mandi, ya, jangan nyalakan TV. Jangan sampai, anak belum mandi tapi karena orang tua ingin nonton telenovela, maka dinyalakan juga TV-nya. Tapi bila si anak sendiri yang melanggar aturan, menurut Retno, orang tua bisa menerapkan konsekuensi. Misalnya, adik boleh pinjam mainan kakak tapi setelah selesai main harus dibereskan. Nah, kalau ia tak mau membereskannya, katakan, "Nanti Adik tak boleh main mainan Kakak lagi, lo."
Dengan demikian tanggung jawab pun tak melulu milik kakak, tapi sang adik pun tetap harus bertanggung jawab pula atas segala perbuatannya. Jadi, konsekuensinya dalam bentuk mengingatkan, bukan hukuman. "Meskipun hanya diingatkan, anak juga akan tergerak memperbaikinya, kok," ujar Retno.
Hanya memang, lanjutnya, kebanyakan orang tua cenderung kurang sabar. "Dikiranya kalau anak sudah sekali diberi tahu akan langsung mengerti. Anak, kan, tak bisa seperti itu. Ia harus terus diingatkan." Selanjutnya, bila anak sudah melakukan seperti apa yang kita inginkan, berilah rewards semisal pujian, "Wah, anak Mama memang hebat, deh!" Sudah paham, kan, Bu-Pak!
Berantem itu Ada Bagusnya, Kok!
Orang tua biasanya tak senang bila kakak-adik bertengkar. Memang tak baik juga dampaknya bila pertengkaran lebih sering terjadi. Tapi kalau hanya sekali-kali malah bagus, lo. "Mereka bisa solve their problem menurut aturan mereka sendiri," ujar Retno. Karena itulah, Retno minta orang tua sebaiknya jangan terlalu reaktif dan langsung intervensi kala si kakak dan adiknya bertengkar.
"Lihat dulu apa permasalahannya, apakah mereka bisa menyelesaikannya sendiri atau tidak." Tak jarang, salah satu akan mengadu lebih dulu kepada ayah atau ibunya. Nah, manfaatkan kesempatan ini untuk menanyai mereka, "Kenapa bisa begitu?" Lantas carilah jalan keluarnya.
"Namun dalam menanyai, sebaiknya harus dua-duanya. Bila mereka teriak-teriak menangis, raih si victim (korban, red) dalam pelukan dan ajak yang satunya duduk di sebelah orang tua sambil ditanyai satu per satu." Dengan begitu, anak pun akan belajar bagaimana cara mencari jalan keluar bila tengah menghadapi masalah. (Indah Mulatsih /nakita)
Minggu, 17 Februari 2013
Mukomuko akan gelar pesta danau skala nasional
Mukomuko (ANTARA
News) - Pemerintah Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, berencana
menggelar pesta danau berskala nasional di objek wisata Danau Nibung
pada 2013.
"Tahun ini kita ada kegiatan pesta danau dan pesta itu digelar di Danau Nibung dan rencananya mengundang kabupaten dan provinsi tetangga," kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Mukomuko Jaskani di Mukomuko akhir pekan ini.
Ia mengatakan, jika kegiatan tersebut jadi diselenggarakan maka kegiatan besar itu pertama atau perdana di daerah itu.
"Baru pertama acara besar seperti ini digelar apalagi sampai mengundang tamu dari luar daerah ini," katanya.
Ia berharap, acara pesta danau itu dapat terlaksana dengan lancar sejak dari awal hingga selesai.
Sebelum pelaksanaan pesta danau tersebut, kata dia, pihaknya juga tahun ini ada kegiatan pembangunan beberapa fasilitas di lokasi itu seperti pondok tempat duduk dan bersantai.
Ia menjelaskan, pesta danau itu selain dapat mempromosikan objek wisata Danau Nibung juga objek wisata lain seperti objek wisata pantai batu badoro, pantai pandan wangi, dan danau lebar.
Ia menambahkan masih banyak lagi objek wisata di daerah itu yang akan dipromosikan saat berlangsungnya pesta danau.
Ia menjelaskan, masih banyak kekurangan fasilitas di sejumlah objek wisata di daerah itu, namun bertahap setiap tahun akan dibangun dan ditata menjadi lebih baik agar diminati oleh wisatawan.
Terkait dengan pengelolaan objek wisata yang diambilalih oleh pihak ketiga atau pribadi, menurut dia, tidak menjadi masalaha, tinggal lagi kerja sama dengan pemerintah setempat.
"Tahun ini kita ada kegiatan pesta danau dan pesta itu digelar di Danau Nibung dan rencananya mengundang kabupaten dan provinsi tetangga," kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Mukomuko Jaskani di Mukomuko akhir pekan ini.
Ia mengatakan, jika kegiatan tersebut jadi diselenggarakan maka kegiatan besar itu pertama atau perdana di daerah itu.
"Baru pertama acara besar seperti ini digelar apalagi sampai mengundang tamu dari luar daerah ini," katanya.
Ia berharap, acara pesta danau itu dapat terlaksana dengan lancar sejak dari awal hingga selesai.
Sebelum pelaksanaan pesta danau tersebut, kata dia, pihaknya juga tahun ini ada kegiatan pembangunan beberapa fasilitas di lokasi itu seperti pondok tempat duduk dan bersantai.
Ia menjelaskan, pesta danau itu selain dapat mempromosikan objek wisata Danau Nibung juga objek wisata lain seperti objek wisata pantai batu badoro, pantai pandan wangi, dan danau lebar.
Ia menambahkan masih banyak lagi objek wisata di daerah itu yang akan dipromosikan saat berlangsungnya pesta danau.
Ia menjelaskan, masih banyak kekurangan fasilitas di sejumlah objek wisata di daerah itu, namun bertahap setiap tahun akan dibangun dan ditata menjadi lebih baik agar diminati oleh wisatawan.
Terkait dengan pengelolaan objek wisata yang diambilalih oleh pihak ketiga atau pribadi, menurut dia, tidak menjadi masalaha, tinggal lagi kerja sama dengan pemerintah setempat.
Langganan:
Postingan (Atom)