Kamis, 26 Juli 2012

Serda TNI Nicolas: Saya Bukan Pahlawan

VIVAnews - Anggota Tentara Nasional Indonesia, Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan, menolak bila aksinya menolong wanita yang akan diperkosa di dalam angkutan kota terlalu di besar-besarkan.

Ia menilai, aksinya itu semata-mata instingnya sebagai manusia yang ingin menolong sesama.

"Dalam keadaan seperti itu, memang sudah kewajiban saya untuk menolong dia. Saya lakukan itu ikhlas karena memang menolong, bukan karena saya anggota Kopassus" ujar Nicolas ketika ditemui di Mako Kopassus, Cijantung, Rabu 25 Juli 2012.

Nicolas yang saat itu sedang menjalani cuti memang tidak membawa senjata api atau alat untuk membela diri. Ia pun tidak menggunakan atribut Kopassus. Namun karena aksinya mengikuti laju angkot C-01 yang digunakan pelaku, telah menggagalkan aksi pemerkosaan.

"Ya pas mendengar teriakan perempuan dari angkot, saya langsung merasa ini ada yang tidak beres," ujar pemuda kelahiran Juni 1988 itu.

Dia berupaya mengejar angkot dengan menggunakan motor Yamaha Mio. Upaya apapun dilakukan. Dari berteriak agar angkot berhenti, sampai melempar helm yang digunakannya ke arah angkot. Semua itu dilakukan untuk menyelamatkan wanita berinisial IS.

"Ketika itu, saya lakukan apa saja agar wanita itu bisa selamat. Kalau saya bawa pistol, mungkin akan saya tembak. Tapi karena saya cuti jadi tidak membawa senjata apapun," katanya.

Aksinya itu memancing beberapa pengguna sepeda motor untuk ikut menyelamatkan IS. Penyelamatan Nicolas pun berhasil, walau pun tidak bisa langsung mengejar pelaku. "Yang penting buat saya korban bisa diselamatkan," ujar anggota satuan 81 Anti Teror Kopassus.

Terlanjur dianggap banyak pihak sebagai Pahlawan, Nicolas meminta agar tidak dibesar-besarkan. "Semua orang bisa jadi pahlawan, bukan hanya anggota Kopassus saja," ujar pria yang akan menikah pada 2014 nanti. (umi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar